Terjebak dalam Excellent Service

Terjebak dalam Excellent Service

Terjebak dalam Excellent Service

Terjebak dalam excellent service ? bagaimana bisa excellent service menjebak kita ?

Excellent Service menjadi salah satu andalan perusahaan untuk mendapatkan moment istimewa dalam salah satu customer journey karena dengan excellent service diharapkan pelanggan atau pembeli atau menggunakan jasa kita akan kembali lagi untuk menggunakan produk atau jasa kita.
Pengertian excellent service dan customer journey sudah banyak yang membahasnya, jadi rekan – rekan bisa melakukan pencarian atas pengertian dua hal tersebut #searchingaja #eeh , namun saya kan mencoba membahas sedikit tentang kedua hal tersebut dilihat dari apa yang saya coba pahami dan kami coba terapkan ( kalau ada yang kurang tepat mohon berikan saya pencerahan di kolom komentar ).

Secara tersurat, excellent service bisa dikatakan sebagai pelayanan yang “sempurna” dan sepertinya akan muncul pemahaman “ ya apa yang diinginkan oleh customer kita yang harus terpenuhi” dan pada akhirnya muncul istilah customer adalah raja, pembeli adalah raja. Is it right ?

Kemudian istilah Customer journey bisa dikatakan sebagai bagaimana perjalanan pelanggan / customer sampai akhirnya mereka melakukan pembelian atas produk yang kita miliki, bukan perjalanan dari mereka lahir, dewasa sampai akhirnya meninggal ya …

Customer Journey

Awareness.

Mungkin bisa dikatakan sebagai sebuah kesadaran atau pengetahuan terhadap produk yang kita tawarkan. Nah bagaimana biar calon pelanggan kita tahu, ya kita mengenalkan produk kita dong ..

Research dan Consideration

Setelah tau mereka akan mencari tahu dulu produk yang kita punya dengan produk sejenis dari produsen lain, dan mereka akan mempertimbangkan mau beli atau menggunakan produk dari produsen yang mana.

Purchase

Keputusan sudah didapat kemudian melakukan pemesanan dan pembelian , di sinilah kita akan mendapatkan cuan yang pertama dari calon pembeli kita yang sudah terconversi menjadi pembeli kita (kalau memutuskan untuk membeli produk kita).

Retention dan Service

Pada saat melakukan pembelian mereka akan mengingat apa yang di lakukan oleh kita sebagai produsen, bagaimana servicenya, bagaimana mutu produk secara nyata dan komponen – komponen lainnya. Dan bagaimana pembeli ini menjadi pelanggan karena melakukan pembelian kembali atas produk kita.

Advocacy

Bisa katakan bagaimana si pelanggan ini memberikan review atas produk yang dia beli, sampai dengan mereka merekomendasikan kepada orang lain untuk membeli produk kita.

Pembahasan mengenai customer journey lebih detail nanti di tulisan selanjutnya ya sob … termasuk dengan pembahasan apa saja yang bisa kita lakukan di setiap langkah dari customer journey.

Trus keterkaitannya dimana nih ?
Sebenarnya dari masing – masing bagian dari customer journey selalu melibatkan pelayanan atau service. Sebut saja di bagian awareness, salah satu kegiatan yang bisa di lakukan untuk meningkatkan awareness calon pembeli atau pelanggan adalah dengan melakukan blasting entah di media sosial atau direct email ( ini kalau yang sifatnya online ya ..), pelayanan yang di maksud adalah penyampaian tentang product knowledge dengan bahasa yang tepat sesuai dengan segment dari produk yang kita miliki.

Kemudian dibagian research dan consideration, ada beragam kegiatan yang bisa kita lakukan untuk memenuhi keingintahuan calon pembeli tentang produk kita, salah satunya adalah dengan bertanya langsung dengan customer support yang kita miliki, ini jelas membutuhkan pelayanan yang cukup ekstra seperti harus bersabar dengan pertanyaan – pertanyaan yang selalu berulang, sabar menjelaskan berbagai hal yang berhubungan dengan produk yang kita miliki, dan sebagainya. Belum lagi dengan step yang lain tentunya diperlukan begitu hal yang berhubungan dengan pelayanan juga.

Dan di setiap industri atau perusahaan memiliki tujuan yang mungkin beragam dalam menerapkan Excellent service, namun secara general tujuan menerapkannya ada beberapa hal antara lain adalah :

  1. Memberikan informasi yang lengkap sesuai kebutuhan pelanggan
  2. Memberikan pelayanan yang berkualitas untuk pelanggan atau klien
  3. Menciptakan rasa percaya pada pelanggan terhadap produk barang maupun jasa yang dipasarkan.
  4. Menginformasikan sedetail mungkin mengenai barang atau jasa yang di tawarkan
  5. Mencegah timbulnya keluhan, tuntutan atau pengaduan dari pelanggan terhadap barang, maupun jasa
  6. Menimbulkan loyalitas dan kepercayaan pada pelanggan untuk secara berulang menggunakan dan memakai barang atau jasa yang di tawarkan.
Setiap Industri atau perusahaan memiliki tujuan yang mungkin beragam dalam menerapkan excellent service

Jadi pada dasarnya excellent service merupakan hal yang baik untuk dilakukan agar calon pelanggan terconversi menjadi pelanggan dan pada akhirnya menjadi pelanggan yang loyal, terus menggunakan produk atau jasa kita bahkan sampai dengan memberikan review yang baik agar perusahaan juga mendapatkan pelanggan yang baru.
Karena biasanya pelanggan baru dan langsung membeli atau menggunakan produk atau jasa kita berasal dari pelanggan yang membaca review dari pelanggan sebelumnya.
Namun ada hal yang mungkin perlu diperhatikan dalam memberikan layanan yang sempurna (excellent service), jangan sampai menjadi bumerang yang pada akhirnya “melukai” perusahaan. Bukan keuntungan yang di dapat malah kerugian yang didapat.

Pengetahuan produk

Pengetahuan produk ini penting untuk dikuasai oleh tim sales (baik offline atau online). Lakukan sinkronisasi dan sinergi yang berkelanjutan dengan tim produksi sehingga antara yang di tawarkan dengan sesuai dengan kondisi produk yang sesungguhnya. Jangan sampai hanya untuk mengejar penjualan / sales, kita menawarkan hal – hal yang tidak di miliki oleh produk atau tidak tercover oleh jasa tersebut.
Jelaskan dengan detail tentang produk dan jasa kita, tanpa harus mengurangi dan menambah dari apa yangkita miliki.

Bagaimana jika pelanggan meminta atau menyebutkan beberapa hal yang diluar yang kita sebutkan? Kalau tidak yakin bisa tercover koordinasikan dengan tim produksi apabila masih memungkinkan upgrading, tidak ada salahnya dilakukan. Added Value.

Nilai produk atau jasa

Seperti halnya di point pertama, usahakan nilai produk atau jasa yang kita tawarkan sebanding dengan apa yang kita miliki atau yang bisa kita lakukan.
Bukan berarti tidak memungkinkan untuk dilakukan upgrading, tidak ada salahnya juga berkonsultasi dengan tim produksi atau ajak tim produksi untuk berdiskusi dengan client apabila ada seolah sales atau marketing.
Kepuasan pelanggan adalah bukan disaat fitur yang diinginkan terpenuhi di awal atas janji sales atau marketing tapi disaat semua yang di tawarkan dapat terpenuhi dengan baik.

Support

Setelah melakukan pembelian, bukan berarti urusan telah selesai ; kemudian cuek dengan pelanggan yang telah membeli produk dan menggunakan jasa kita. Kalau tidak pengen repeat order ya lakukan aja,.. Tapi kalau ingin mereka repeat order atau bahkan memberikan review yang positif dan bahkan memberikan anjuran kepada rekan – rekan, keluarga atau orang lain untuk segera menggunakan produk dan jasa kita ya berikan support yang terbaik untuk mereka apabila ada hal hal yang diluar dugaan kita , misal produknya rusak ketika sampai ditangan pembeli, atau timeline pengerjaan nya overdue dari jadwal yang disepakati.

Perhatikan kesepakatan yang telah di buat, tunjukkan ke mereka apa yang sudah disepakati bersama,.. Namun ingat komunikasi kan dengan baik, jangan terburu buru untuk mengganti atau menawarkan tambahan jasa lebih tinggi diluar kemapuan kita.

After Sales

Pada dasarnya, after sales service lebih mengacu pada berbagai upaya untuk memastikan pelanggan sudah merasa puas dengan produk atau jasa yang ditawarkan. Cara ini dilakukan agar pihak pembeli merasa puas dan secara tidak langsung akan rela memberikan rekomendasi produk atau layanan perusahaan pada kerabatnya.

Walau mungkin tidak akan meningkatkan penjualan secara signifikan, namun hubungan yang baik akan membuat pelanggan akan memberikan rekomendasi kepada orang lain dengan sukarela, efek selanjutnya mungkin bukan repeat order tapi new customer.
Sapa dengan baik, dan pastikan tidak over dalam melakukan after sales service dan membuat malah tidak nyaman. Sesekali juga perlu disapa walau tidak perlu menawarkan produk atau jasa kembali. Ingat kita juga perlu untuk punya waktu mendapatkan pelanggan lainnya.

Mungkin point diatas menjadi beberapa hal yang bisa di lakukan, walaupun ada beberapa hal yang bisa di tambahkan.
Batasan perlu di lakukan dengan perjanjian kerja sama, atau MoU antara produsen dengan konsumen… ya tapi kalau produk anda adalah sayur sayuran dan produk sekali habis ndak perlu juga kali menggunakan MoU #lol

Demikian opini saya, kalau semisal ada tambahan dan koreksi dengan rendah hati saya menerima dan mohon maaf. Silahkan di kolom komentar yes .. 🙂

Segmentasi Pasar, salah satu strategi marketing

Segmentasi Pasar, salah satu strategi marketing

Segmentasi Pasar, salah satu strategi marketing

Pasar dalam pengertian yang biasa kita ketahui adalah tempat terjadinya sebuah transaksi, di sana ada proses penjualan dan pembelian, sehingga kalau ada proses pembelian dan penjualan berarti ada individu yang melakukan kegiatan penjualan yaitu penjual dan individu yang melakukan pembelian disebut sebagai pembeli.
Segmentasi mungkin bisa di artikan sebagai proses membagi atau mengelompokkan. Jadi segmentasi pasar adalah pembagian pasar yang semula heterogen menjadi homogen berdasarkan berbagai macam kateori misal nya tingkat ekonomi, ketertarikan, umur, bahkan mungkin karakter untuk daerah atau wilayah tertentu.
Kira – kira perlu kah adanya segmentasi pasar ? atau justru akan semakin memperibet proses sales atau marketing.

Mungkin ada beberapa dari rekan – rekan merasa bahwa dengan cara yang sekarang tanpa adanya pengelompokan pasar sudah cukup baik salesnya, produknya cukup laku. Asalkan dengan service yang baik, mampu beramah tamah, sabar, pandai merayu sudah cukup tanpa harus melakukan segmentasi pasar.

Namun sebenarnya melakukan segmentasi pasar merupakan hal untuk membuat proses pemasaran menjadi lebih terarah. Ada beberapa manfaat yang timbul ketika melakukan segmentasi pasar :
  1. Perencanaan produk atau jasa menjadi lebih baik. Hal ini berhubungan dengan produk atau jasa yang diinginkan oleh konsumen.
  2. Dapat membuat cara promosi yang tepat dan paling sesuai sehingga pada akhirnya tepat sasaran.
  3. Dapat membantu dalam menentukan media iklan yang tepat semisal untuk produk yang ternyata sangat dibutuhkan oleh kaum milenial mungkin dengan perbanyak iklan di media seperti sosial media akan lebih tepat dibandingkan dengan billboard atau banner besar dipinggir jalan.
  4. Memberikan strategi komunikasi yang baik dan efektif. Komunikasi untuk pejabat atau pengusaha muda atau dengan mahasiswa akan berbeda walaupun mungkin produk atau jasa yang di tawarkan serupa.
  5. Modal bisnis yang di salurkan menjadi tepat sasaran dengan melakukan segmetasi pasar.
  6. Dan manfaat – manfaat lainnya.
Asalkan dengan service yang baik, mampu beramah tamah, sabar, pandai merayu sudah cukup tanpa harus melakukan segmentasi pasar.

Karena segmentasi pasar merupakan kegiatan pengelompokkan dari pasar yang ada dan terpantau oleh kita maka mungkin akan muncul berbagai kelompok – kelompok yang bisa jadi akan cocok dengan produk atau jasa kita bahkan tidak akan cocok dengan produk atau jasa kita.
Segmentasi pasar atau pengelompokkan pasar ada berbagai jenis yang bisa dilakukan antarara lain :

Segmentasi Geografi atau Lokasi

Pengelompokkan pasar berdasarkan lokasi di mana pelanggan atau calon pelanggan kita akan membeli produk atau jasa kita. Hal ini berhubungan dengan negara, kabupaten atau propinsi. Dengan pengelompokan berdasarkan lokasi ini nanti akan berkembang kepada analisa sampai dengan ciri khas dari daerah tersebut. Misalnya : produksi jaket untuk target pasar negara Indonesia yang merupakan negara tropis mungkin akan berbeda dengan daerah kutub utara.

Segmentasi Geografi atau Lokasi

Pengelompokkan pasar berdasarkan lokasi di mana pelanggan atau calon pelanggan kita akan membeli produk atau jasa kita. Hal ini berhubungan dengan negara, kabupaten atau propinsi. Dengan pengelompokan berdasarkan lokasi ini nanti akan berkembang kepada analisa sampai dengan ciri khas dari daerah tersebut. Misalnya : produksi jaket untuk target pasar negara Indonesia yang merupakan negara tropis mungkin akan berbeda dengan daerah kutub utara.

Segmentasi Demografis

Pengelompokan konsumen atas dasar usia, gender, pendidikan, pendapatan dan lainnya. Mungkin sepertinya ini mudah namun segmentasi jenis ini membutuhkan kejelian dan ketelitian.

Segmentasi Psikografis

Pengelompokan yang meliputi perilaku konsumen dalam merespon tren dan stimulasi produk atau berdasarkan atas kesukaan dan ketertarikan terhadap produk tertentu. Bisa juga di arahkan pada suatu profesi dan hobi khusus

Segmentasi Sosial Budaya

Dengan memperhatikan variabel sosial dan budaya konsumen , biasanya data yang di analisis dapat berupa kelas sosial, suku, norma masyarakat atau komunitas tertentu.

Segmentasi Tingkat Ekonomi

Pengelompokan berdasarkan tingkat ekonomi mungkin tergolong pengelompokan yang relati lebih mudah, namun bukan berarti tidak membutuhkan kejelian dan ketelitian yang lebih.
Contoh di bidang kuliner ya .. :

Kelompok Tingkat Ekonomi Atas
Kebanyakan kelompok ini membutuhkan rasa yang enak, sanitasi yang higienis, bermanfaat bagi kesehatan. Mereka tidak memperdulikan masalah harga dan memiliki tingkat sensivitas yang rendah terhadap perubahan harga.

Kelompok Tingkat Ekonomi Menengah
Kelompok ini biasanya memiliki daya beli sedang, bertujuan memenuhi kebutuhan dasar dan gaya hidup. Pengemasan yang baik dan rasa yang enak menjadi kebutuhan yang sangat diperhatikan di kelompok ini.

Kelompok Tingkat Ekonomi Bawah
Daya beli dari kelompok ini terbilang sangat terbatas, sangat sensitif dengan harga atau perubahan harga, alasan mendasar untuk memenuhi kebutuhan perut sehingga menginginkan kuantitas besar dengan harga yang sangat terjangkau.

Segmentasi pasar menjadi sangat urgent untuk di lakukan mengingat perlu strategi yang tepat sasaran sehingga ujung – ujungnya adalah meningkatkan pembelian. Alih – alih dengan alasan “ justru dengan tanpa segmentasi pasar, pasar kita menjadi luas, jangkauan kita makin lebar, apapun kita tawarkan” , akan membuat kita tidak focus sehingga muncul istilah sibuk tapi tidak produktif, energi yang dikeluarkan banyak tapi hasil yang didapat tidak sebanding.
Kalaupun mengeluarkan biaya tidak akan terlalu besar, karena focus pada pasar tertentu yang jelas – jelas membutuhkan produk atau jasa kita.
Demikian. #imho

Peran HR menjadi Krusial di Masa Pandemi

Peran HR menjadi Krusial di Masa Pandemi

Peran HR menjadi Krusial di Masa Pandemi

Sudah 2 tahun kita memasuki era yang kita sebut sebagai New Normal. Di mana dulu, setiap kebiasaan yang tidak biasa sekarang sudah menjadi hal yang biasa, seperti penggunaan masker, pengecekan suhu tubuh serta penggunaan handsanitizer.

Penyebaran COVID-19 yang masif di masa niew normal memberikan dampak yang cukup signifikan pada berbagai aspek termasuk ekonomi baik mikro maupun makro. Banyak perusahaan yang berimbas dan menghadapi masa masa krisis.
Salah satu hal yang penting diperusahaan adalah Human Resources (HR). Peran HR menjadi krusial di masa pademi seperti ini.

Cepatnya penyebaran pandemi COVID-19 dan penerapan kebijakan pemerintah menyebabkan perusahaan bisa akan merasa kewalahan untuk segera beradaptasi. Tugas HR menjadi semakin berat di masa seperti saat ini, HR harus mampu menyelaraskan organisasi dan melindungi aset perusaahaan salah satunya adalah karyawan.
Menurut saya ada beberapa hal menjadi peran HR di era New Normal ini :

Konseling dan Kolaborasi

Fokus pada komunikasi bisa meningkatkan engagement. Komunikasi usahakan jangan selalu dalam 2 arah bukan hanya 1 arah saja. Sepertinya membuat semacam sesi konseling untuk masing – masing karyawan bisa dilakukan agar karyawan juga dapat menyampaikan perihal kecemasan, ketakutan, dan stress yang mereka hadapi.
Bahkan level dari masing – masing karyawan juga bisa menjadi hal yang berbeda ketika melakukan konseling, tidak bisa di samakan antara level karyawan biasa, supervisor bahkan level manager. Tingkat stressing nya juga beda, dan pendekatan nya juga beda,.. Level supervisor atau manager mungkin bisa mengelola streesing di level karyawan biasa, namun bisa jadi mereka tidak bisa mengelola stressing ketika di jabatan mereka saat ini.
Komunikasi dengan karyawan juga sangat penting untuk memberikan pesan bahwa perusahaan peduli dengan karyawannya. Tugas HR untuk menjembatani nya. Sudah ada banyak platform yang bisa digunakan.
Tidak perlu lama, tetapi frekuensi nya lebih sering sekedar memberikan motivasi di group whatsapp kantor setiap hari atau video conferencing rutin tiap pekan akan berdampak positif bagi karyawan.
Menciptakan alur komunikasi yang sederhana tapi lebih sering.

Pengelolaan dan menghadapi stressing setiap karyawan serta level berbeda

Utamakan Kesehatan dan Keselamatan Karyawan

Aset terpenting dalam sebuah perusahaan adalah SDM (Sumber Daya Manusia). Kesehatan dan keselamatan karyawan menjadi prioritas utama pada kondisi pandemi saat ini. Kebijakan perusahaan yang diterapkan akan lebih baik jiga mengutamakan dua aspek tersebut. Mungkin bisa membuat semacam checklist bagi perusahaan terkait apa saja yang harus di perhatikan pada kondisi kritis.
Selain itu HR selayaknya bisa berperan strategis dalam pengaturan ulang proses kerja.
Adanya benefits kesehatan bagi karyawan adalah salah satu bentuk perhatian perusahaan dalam menanggapi kesehatan karyawan. Kesehatan mental dan keamanan finansial termasuk point penting dalam kesehatan karyawan. Walaupun setiap perusahaan memiliki kebijakan yang berbeda, namun fokusnya tetap bertujuan untuk meningkatkan standar kesehatan karyawan.

Menghargai Kinerja Karyawan.

Tidak dalam kondisi khusus pun sebenarnya perlu dilakukan 🙂 . Apabila sebuah perusahaan menerapkan punishment maka sepantasnya juga ada reward, begitu pula sebaliknya.
Reward walau tidak selalu dalam bentuk rupiah namun mungkin akan di perlukan untuk mempertahankan mood karyawan dalam menunaikan tugasnya. Namun perlu juga di pahami bahwa reward harus di sesuaikan dengan kondisi perusahaan.

Perusahaan perlu juga meninjau fleksibilitas tempat kerja, pekerjaan jarak jauh, dan staf kontrak

Membuat Aturan Baru.

Membuat aturan baru bagi karyawan dan perusahaan secara menyeluruh. Mempertimbangkan rencana kesinambungan bisnis untuk penanganan hal hal seperti covid-19, perusahaan perlu memiliki sistem, prosedur,kebijakan dan aturan yang cocok.
Perusahaan perlu juga meninjau fleksibilitas tempat kerja, pekerjaan jarak jauh, dan staf kontrak.

Edukasi Karyawan.

Tidak pernah berhenti untuk melakukan edukasi untuk penanggulangan COVID-19. Dari pengetahuan gizi yang diperlukan untuk pencegahan terpapar covid-19 sampai dengan informasi kebijakan perusahan apabila ada karyawan yang terkena atau terpapar COVID-19.
Bahkan mungkin karyawan lain juga perlu diberikan informasi apabila ada rekan yang terpapar COVID-19 sehingga diharapkan muncul respect terhadap sesama karyawan juga.

Ada satu hal tambahan yang mungkin bisa dilakukan yaitu dengan semacam survey kecemasan karyawan.
Work From Home berkepanjangan dapat menimbulkan tekanan dan bisa jadi dampak psikologis negatif sepeti kecemasan dan WFH burnout. Oleh karena itu, membuat survey kecemasan karyawan bisa jadi hal yang bisa di lakukan dengan membuat semacam kuisioner sederhana dengan misal google form serta skoring sederhana sehingga hasil survey bisa di tindaklanjuti untuk menentukan penanganan yang tepat bagi karyawan.

Pribadi lepas pribadi merupakan pribadi yang unik sehingga mungkin apabila ada 100 karyawan bisa jadi memiliki karakter yang berbeda juga. Karna kita juga di ciptakan unik.

Kita bisa menghadapi masa ini dan hal yang baik akan segera kita dapatkan. Ada Jatuh agar kita bisa bangun lagi. So KITA BISA

Saya tak fokus jualan saja

Saya tak fokus jualan saja

Saya tak fokus jualan saja

“Saya tak focus jualan saja..” kalimat itu yang sering kali muncul ketika kita terjun di dunia selling atau sales atau marketing, dan itu juga saya alami ketika background pendidikan terakhir sarjana Teknologi Pertanian terjun ke dunia penjualan.
Apa yang saya lakukan waktu itu, ya .. kuasai definisi produk tersebut dengan “sempurna” atau biasa di sebut dengan product knowledge. Product Knowledge menjadi andalan saya waktu itu, tidak ada yang lebih hebat penjualannya ketika kita bisa menguasai pengetahuan produk itu dengan sangat baik. Sehingga waktu ada sesi training untuk sales, dan trainer menanyakan “ apakah benar seorang sales yang hebat adalah sales yang bisa menjual es di kutub utara? “ dan saya menjawab “ ya benar …”
Ketika saya menguasai mengenai produk, secara otomatis saya pun akan bisa berkomunikasi dengan baik dalam menawarkan produk atau jasa itu ke calon pembeli saya.
Namun yang saya temui, sungguh berbeda dari apa yang saya bayangkan, produk sudah saya kuasai dengan baik, tapi saya tidak mendapatkan pembeli yang cukup. Jadi apakah yang saya lakukan sudah benar ? hanya dengan menguasai pengetahuan tentang produk saja sudah cukup membuat produk saya akan terjual dengan baik ?
Mari kita coba kupas yakk… untuk pengenalan apa itu sales, apa itu selling dan apa itu marketing cari di sumber yang lain saja yaak,. #lol
Sebenarnya yang kita lakukan hanya 1 hal yaitu KENALI. Yes.. hanya KENALI.

KENALI MARKET

Walaupun biasanya produk atau jasa dibuat untuk memenuhi permintaan dari konsumen tapi kita juga masih harus mengenal karakter market anda, bahkan bisa jadi perkelompok dari market anda juga perlu anda kenali. Mungkin bisa jadi mereka membutuhkan produk tersebut tapi tidak membeli karena cara menawarkan kita , cara berkomunikasi kita tidak sesuai dengan yang mereka harapkan.
Mereka bukan raja, yang harus kita layani, tapi mereka adalah teman yang perlu kita “sembuhkan” dengan produk atau jasa yang kita miliki.

KENALI PRODUK

Apa yang saya lakukan beberapa waktu yang lalu tidak ada salahnya.., memang yang harus kita lakukan adalah mengenai produk atau jasa yang akan kita tawarkan ke calon pembeli. Tanpa mengenal produk atau jasa yang akan kita tawarkan adalah sebuah keniscayaan untuk dapat menjual nya.:)

Pastikan anda mengenal dengan cukup baik produk atau jasa yang kita coba tawarkan ke calon pembeli anda. Mengenal produk atau jasa anda ini jangan berhenti pada “ya saya sudah paham..” “ya saya sudah mengerti dan hapal deskripsi produk “, tapi cobalah menjelaskan dengan sederhana kalau bisa berarti anda sudah mengenal produk anda dengan baik.

Kenali produk juga bisa berpikir apakah produk atau jasa yang saat ini sedang ditawarkan masih bisa di tingkatkan kegunaan atau fungsinya ?

KENALI KOMPETITOR

Selain itu, mengenal produk atau jasa anda juga bisa dengan melakukan research terhadap produk yang sama tapi di tawarkan oleh pihak lain selain kita, atau yang bisa di sebut dengan kompetitor.

Bandingkan produk atau jasa anda apakah serupa ? apakah sama persis? Atau bahkan ada nilai tambahnya dibandingkan dengan produk atau jasa yang di tawarkan oleh kompetitor… so sepertinya membuat kompetitor mapping bisa dilakukan. Salah satunya dengan menggunakan analisa SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat). Pembahasan mengenai SWOT, di artikel selanjutnya ya sob..
Tapi yang perlu di perhatikan, mengenal kompetitor bukan untuk mencari kelemahan atau kejelekan kompetitor, yang kemudian digunakan untuk menyampaikan ke pelanggan.
Kenali kompetitor untuk mencari inspirasi apakah ada hal yang perlu di tambahkan di dalam produk atau jasa kita.

KENALI PRODUSEN atau BAGIAN PRODUKSI

Komunikasikan value yang bisa di tambahkan dengan bagian produksi sehingga produk atau jasa yang kita miliki bisa selalu di improve, penyesuaiannya lebih mudah.
Jangan sampai apa yang kita janjikan ke pelanggan, tidak ada dalam produk atau jasa yang kita tawarkan kemudian anda meminta untuk menambahkan dengan segera ke bagian produksi tanpa ada komunikasi yang lebih baik.

Nah jadi apakah benar dengan statement “ saya tak focus jualan aja..” , semata -mata hanya melakukan penjualan tanpa melakukan minimal hal di atas ? sepertinya tidak. Kebanyakan dari sales, akan melakukan minimal menjajaki marketnya seperti apa
Kira – kira apa lagi ya sob.. Yang perlu di kenali agar mendapatkan engagement dari konsumen lebih banyak ? tulis di kolom komentar ya sob..

Demikian

Brand adalah Merk

Brand adalah Merk

Brand adalah Merk

Branding itu apa sih ? Kebanyakan orang akan mengasosiasikan sebagai sebuah merek padahal itu adalah terjemahannya, trus ujung – ujungnya hampir selalu mengarah ke logo, yang lebih parahnya berhenti disitu saja. Padahal makna dari branding tidak sekedar sebagai sebuah merek atau logo saja, jauh lebih dalam dari pada itu.
Dulu kebanyakan orang ketika akan memiliki sebuah usaha, di tahap awal selalu memikirkan mengenai nama dari sebuah usaha tersebut, kemudian berkembang dengan adanya semacam gambar, misalnya di depannya atau di atas dari nama tersebut yang kemudian di kenal dengan yang namanya logo.
Setelah itu, mulai dengan bermain warna , tagline sehingga diharapkan orang semakin mengenal dengan merek atau logo tersebut. Nah kebanyakan orang, berhenti di titik tersebut bahwa yang disebut dengan brand adalah logo, warna dan tagline.
Coba saja perhatikan brand – brand yang sudah terkenal dan sudah top of mind seperti cocacola, starbuck, mcdonald, dan merk lainnya apakah mereka pada akhirnya juga hanya memahami bahwa logo atau merk mereka itu yang mendukung sustainbility dari bisnis mereka atau ada strategi branding yang mereka terapkan sehingga keberlanjutan nya masih tetap terjaga ?

Jadi apa sebenarnya sih yang disebut dengan brand? brand itu sendiri adalah merupakan kumpulan dari nilai. Hal ini bisa di perhatikan dengan kenapa sih customer bisa berulang kali membeli brand tersebut bahkan sampai merekomendasikan ke orang lain untuk membeli brand tersebut.

Strategi branding yang tepat mendukung sustainability bisnis

Brand adalah sekumpulan nilai

Nah ini menjadi salah satu faktor penting dari pertama kali dia beli sampai dengan merekomendasikan ke orang lain untuk membeli nya, faktor penting itu adalah efek psikologi bahwa branding tersebut sangat melekat di benak mereka dengan begitu permanen.

Contoh nyata nih sob.. Starbuck yang kita kenal juga menjual kopi dengan berbagai variannya, bahkan saat ini juga ke coklat, bahkan ke teh.. Apakah kopi nya lebih enak dengan yang di warung kopi biasa atau kopi single origin milik kita sendiri ? belum tentu juga .. trus mengapa akhirnya Starbuck bisa sebesar itu. Apa yang sebenarnya mereka jual ?

Contoh lagi nih sob.. KFC core product mereka apa sih ? mungkin spontan kita akan menyebut ya ayam crispy,.. Apakah kalau kita tau cara menggorengnya atau bumbunya apa saja bisa sama rasanya dengan mereka ? bisa jadi ,.. Atau bahkan mungkin lebih hemat kalau kita menggoreng sendiri.

Sehingga mungkin kita bisa sepakat bahwa Branding adalah sekumpulan nilai di mana konsumen dateng, mendapatkan experience dengan melihat visual , mencicipi makanan (kalau semisal di bidang kuliner), sampai dengan melakukan pembayaran, sampai akhirnya customer mendapatkan presepsi sehingga pada akhirnya sekumpulan itu nanti nya yang akan menjadi dasar customer kita untuk pada akhirnya merekomendasikan ke orang lain.

So.. seharusnya sudah ada pencerahan ya mengenai brand dan/atau branding ya…jadi brand atau branding bukan lah merek. Sekarang kita coba bagaimana apabila kita mau memulai sebuah usaha kemudian brand kita ingin segera dikenal oleh pasar?

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk memulainya :

  1. Mau bisnis apa ? tentukan konsep dan model bisnis apa yang akan kita lakukan ? misalnya kita akhirnya memutuskan untuk berbisnis kuliner, kemudian mau jenis kuliner apa yang akan kita jadikan bisnis, misalnya masakan Indonesia
  2. Kumpulkan informasi mengenai jenis kuliner yang kita pilih. Kalau sudah memilih kuliner masakan indonesia berarti yang kita lakukan adalah jenis makanan indonesia apa saja yang bisa kita optimalkan untuk di jadikan bisnis dan lakukan research atas makanan – makanan tersebut.
  3. Siapa target pasar atau early adapter kita nantinya apakah pekerja, mahasiswa atau ibu – ibu rumah tangga yang tidak sempat masak ? misal kita tentukan target nya adalah mahasiswa, karena kita mau bertujuan generasi muda tidak melupakan masakan – masakan indonesia.
  4. Tahap pemilihan nama. Dari hal di atas mulai kita bisa menentukan pemilihan namanya dengan beberapa tahap :
    • Melakukan listing nama berdasarkan model bisnis dan target bersama rekan bisnis atau partner.
    • Pilih nama yang sudah terlisting itu yang paling sesuai dengan model bisnis dan target.
    • Jangan lewatkan kemungkinan nama itu bisa di HAKI ya sob..
    • Riset ke target market,..Bisa kita mengunjungi calon target market kita dan meminta mereka untuk memilih kira – kira nama mana yang “mereka” banget.
  5. Buat Sistem yang jelas untuk bisnis kita, mulai dari sistem internal sampai dengan user experience apa yang kita mau raih.
Ribet ya cuy.. Kenapa ndak mulai aja dulu ya kayak yang di sono itu 🙂
Karena yang akan kita bentuk adalah brand atau bagaimana customer kita akan mengalami ketika membeli produk kita.
Pengalaman menikmati makanan yang lezat, experience customer service atau waiter dalam menyajikan makanan, pengalaman bagaimana mudahnya melakukan pembayaran, pengalaman bagaimana kebersihan tempat kita, pengalaman bagaimana managemen tertata dengan baik dan pengalaman – pengalaman lain yang akan membawa customer kita untuk merekomendasi kan brand kita serta akan kembali dan kembali lagi.

Sistem apakah harus di buat dari awal? Iya dong… mumpung masih mudah dan sederhana buat dari awal bukan pada saat bisnis membesar baru bikin sistem.. Akan puyeng ndak sih kalau sudah mulai kompleks baru bikin sistemnya ?
#imho

Demikian.

Coaching versus Designing

Coaching versus Designing

Coaching versus Designing

Coaching merupakan kata bahasa inggris yang menurut kamus Merriam-Webster pengertian dari coaching secara ringkas adalah “to instruct, to direct or to train intensively“, yang artinya memberikan instruksi, bimbingan ataupun pelatihan intensif. Yang perlu diperhatikan adalah tidak ada pengertian “ menjalankan” , Nah ini yang menjadi salah pengertian oleh kebanyakan orang, bahwa coaching berarti ikut menjalankan bisnisnya.
Pernah melihat seorang pelatih atau coach Basket ikut dalam pertandingan ? sepertinya tidak deh sob .. coach memberikan instruksi, arahan bahkan pertanyaan – pertanyaan yang merupakan simulus untuk memberikan jalan keluar bagi problem yang di hadapi oleh tim, kalau kata bu tedjo “tilik” “mbok wong ki seng solutip” 😀 .
Dalam coaching, ada seorang pelatih yang biasa disebut coach, dan juga ada orang yang dilatih yang biasa disebut coachee. Biasanya coachee adalah pemilik bisnis namun dalam perusahaan para executive pun membutuhkan coach, bahkan bill gates pun butuh coach, seperti yang dia pernah bilang “ “Everyone needs a coach. It doesn’t matter whether you’re a basketball player, a tennis player, a gymnast or a bridge player. We all need people who will give us feedback. That’s how we improve.”
..to instruct, to direct or to train intensively..

Tanggung jawab sepenuhnya keberhasilan 100% adalah Coachee

So… yang menentukan keberhasilan coach atau coachee ?
Tanggung jawab sepenuhnya keberhasilan goal 100% adalah coachee, coach hanya akan membantu coachee agar melakukan lebih efektif dan efisien. Dan biasanya teknik yang paling banyak di lakukan oleh coach adalah dengan bertanya.

Namun sebelumnya memulai coaching biasanya pengen tahu terlebih dahulu, apakah calon coachee ini siap untuk menerima dia sebagai coach dan dengan rela untuk menerima coaching. Seorang coach biasanya tidak akan memulai coaching kalau calon coachee belum bisa menerima dirinya akan di coaching.

Caranya gimana tuh coach bisa tau bahwa calon coachee sudah siap menjadi coachee ? kalau di tanya langsung mungkin aja akan di jawab, “ ya saya siap” 🙂 , oleh karena itu, biasanya coach akan memberikan pertanyaan – pertanyaan yang harus di jawab sehingga coach akan mengambil kesimpulan bahwa apakah sudah siap atau belum.

Apabila calon coachee sudah siap menjadi coachee, maka coach siap untuk melakukan tugasnya.

PENENTUAN GOAL

Di awal coaching, coach akan memberikan bimbingan atau “rangsangan” kepada coachee untuk menemukan goal atau tujuan yang sesungguhnya agar terarah untuk langkah selanjutnya. Dengan ditemukan nya goal yang utama maka di harapkan coachee lebih terarah mencapainya.
Kemudian setelah menemukan goal yang sesungguhnya, kembali coachee dibimbing untuk menemukan lagi kira – kira apa saja yang di perlukan untuk mencapai tujuan.

STRATEGI

Kembali seorang coachee akan dibimbing oleh coach untuk menemukan strategi yang tepat disesuaikan dengan kondisi coachee dan goals yang sudah di rumuskan sebelumnya. Coach akan kembali memberikan pertanyaan – pertanyaa yang fungsinya untuk membuka ide – ide dari coachee sehingga output nya adalah cara – cara atau strategi yang akan di lakukan oleh coachee dalam mencapai goal.
Biasanya akan muncul beberapa kelompok ide untuk di lakukan , misal apa yang di lakukan di unit/ divisi finance, apa yang harus di lakukan di divisi HR dan lain – lain. Nah setelah itu akan di susun secara lebih detail untuk di lakukan oleh coachee dalam bentuk tugas dari coach.

MONITORING

Selanjutnya coach akan mengawasi apakah tugas – tugas di jalankan oleh coachee dengan baik dan sesuai dengan jalurnya. Coachee di tuntut untuk konsisten dalam menjalankan program kerjanya. Hal ini juga berhubungan dengan reward dan konsekwensi yang harus di terima oleh coachee apabila tidak melakukannya. Dari coach kah reward dan konsekwensinya ? tidak dong. Reward dan konsekwensi yang memberikan ya dari coachee itu sendiri, apabila berhasil dia berhak untuk menerima reward.

Mengapa ndak di kasih tau saja langung caranya dan tinggal melakukannya?
Hal ini melatih coachee untuk semakin mandiri dan kompeten di bidang nya, sehingga nanti dia apabila menemukan permasalahan lagi, akan dengan lebih mudah menyelesaikannya. Oleh karena itulah, coaching seharusnya tidak dilakukan dalam kontrak yang panjang, seharusnya tidak lebih lama dari 6 bulan sampai dengan 1 tahun.

DESAIN GRAFIS

Desain grafis atau rancang grafis adalah proses komunikasi menggunakan elemen visual, seperti tipografi, fotografi, serta ilustrasi yang dimaksudkan untuk menciptakan persepsi akan suatu pesan yang disampaikan. Bidang ini melibatkan proses komunikasi visual dan desain komunikasi. (menurut wikipedia).
Orang yang melakukan proses desain grafis biasa disebut Graphic Designer.

Sepertinya tidak ada aturan khusus seorang bisa di sebut dengan graphic designer, #cmiiw, tidak perlu pendidikan khusus, yang penting bisa mendesain , sudahlah di sebut dengan desainer.

Berbeda dengan coaching dimana seorang coach tidak ikut melakukan eksekusi , maka justru seorang desainer grafis justru yang melakukan eksekusi dengan menggambar, layouting desain, dan bermain typography setelah dia berperan sebagai “translator” dari user yang ingin memberdayakan skill desainer.
Jadi kurang lebih proses yang di lakukan seorang desainer grafis, antara lain :

BERTANYA

Desainer grafis akan bertanya beberapa hal ketika user akan menggunakan jasanya.

  1. Peruntukan desain untuk apa? Promo, Event, atau produk
  2. Media desain. Apakah untuk keperluan offline atau online ? offline yang di maksud adalah media yang akan di cetak, online untuk website, media sosial atau untuk lainnya. Hal ini akan berlanjut ke ukuran medianya, agar nantinya tampilan yang dihasilkan juga lebih optimal.
  3. Konsep dasar , biasanya hal ini berhubungan dengan segment target dari user, misalnya promo tentang belanja kebutuhan harian, berarti targetnya adalah emak – emak misalnya, so mungkin dari segi warna, informasi yang perlu ditonjolkan apa ? apakah produk atau harga ?
  4. Isi. Desain yang akan di kerjakan nanti isinya apa? Isi dapat berupa text atau image. Yang lebih tau pastinya user bukan seorang desainer.

DUMMY

Proses selanjutnya, desainer membuat semacam desain awal untuk di ajukan ke user yang biasa di sebut dengan approval.
User akan memilih mana yang sesuai yang di harapkan walaupun nanti akan ada beberapa revisi lagi untuk di lanjutkan ke proses revisi, dan biasanya revisi nya tidak cukup sekali 🙂 . Hal ini terjadi kalau user sudah ada gambaran mengenai konsep dasar, nah kalau belum biasanya juga desainer tetap akan mengajukan beberapa pilihan konsep namun tidak satupun konsep yang di ajukan akan di lanjutkan ke tahap berikutnya.
Kemungkinan akan muncul konsep baru setelah desainer mengajukannya, sehingga dapat di katakan salah satu pekerjaan desainer adalah memancing munculnya konsep yang diinginkan user yang sebenarnya (hampir samalah ya dengan coach .. ) :p

REVISI – APPROVAL – REVISI – DONE

Proses akan berulang hingga akhirnya desain siap di gunakan oleh user. Keadaan ini tergantung dari user dan desainer ya sob 🙂

Nah sob … dari uraian antara proses desain dengan coaching yang di lakukan oleh desainer dan coach , resume nya adalah sebagai berikut

COACHING

  • Proses membimbing dan memberikan insight biasanya dalam bentuk pertanyaan – pertanyaan
  • Perlu kesiapan coachee untuk menerima dicoaching.
  • Metode yang digunakan adalah dengan sering bertanya
  • Di butuhkan skill dalam bidang komunikasi dan “ngulik” apa yang sebenarnya di inginkan oleh coachee
  • Tidak melakukan tugas yang di rumuskan, karena yang melakukan tugas adalah coachee
  • Waktu lebih flexible, namun di anjurkan untuk tidak lebih dari 1 tahun
  • Output terakhir adalah agar coachee lebih mandiri dan mampu menyelesaikan problem

DESIGNING

  • Proses membuat dan memberikan insight biasanya dalam bentuk dummy design
  • Perlu kesiapan budget client untuk memutuskan design menggunakan jasa pihak ke-3.
  • Metode yang digunakan adalah membuat dummy design
  • Di butuhkan skill dalam bidang penguasaan aplikasi desain dan “ngulik” apa yang sebenarnya di inginkan oleh client serta kreativitas
  • Melakukan tugas desain
  • Waktu tergantung dari kesepakatan bersama.
  • Output terakhir adalah desain grafis yang sesuai dengan kebutuhan client
Ya.. kurang lebih itu ya sob untuk coaching dan designing. Satu yang pasti, mereka butuh proses ,.. hehe namanya aja sudah pake “-ing”.

Terima kasih